Fri. Feb 6th, 2026
Cara validasi emosi anak
Cara validasi emosi anak

Matochrecept.com – Cara validasi emosi anak sering terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya banyak orang tua justru kebingungan. Di satu sisi, Anda ingin anak merasa dipahami. Di sisi lain, Anda tetap perlu bersikap tegas agar anak tidak melampaui batas. Saat anak tantrum, menangis berlebihan, atau marah tanpa alasan yang jelas, tidak jarang orang tua langsung menasihati atau melarang tanpa memahami perasaannya terlebih dahulu. Di sinilah Cara validasi emosi anak menjadi keterampilan penting yang perlu dipelajari.

Read More : Begini Cara Menidurkan Anak Sendiri untuk Orang Tua Zaman Sekarang

Dan kabar baiknya, di artikel ini membahas cara dan langkah-langkah validasi emosi anak secara konkret, sehingga Anda bisa mempraktikkannya dalam situasi sehari-hari tanpa menggurui, tanpa drama, dan tetap memegang peran sebagai orang tua yang tegas. Yuk, langsung saja ke inti pembahasannya di bawah ini!

1. Tenangkan Diri Orang Tua Terlebih Dahulu

Langkah pertama sering kali justru diabaikan. Saat anak emosi, orang tua perlu mengatur emosinya sendiri. Tarik napas sejenak dan pastikan nada suara tetap stabil. Anak tidak bisa belajar mengelola emosi jika melihat orang tuanya juga meledak-ledak. Cara validasi emosi anak selalu dimulai dari ketenangan orang tua.

2. Dengarkan Anak Tanpa Menyela

Biarkan anak mengekspresikan perasaannya, meski terdengar berlebihan atau tidak masuk akal. Jangan langsung memberi solusi atau nasihat. Kontak mata, anggukan kecil, dan sikap tubuh yang terbuka sudah menjadi bentuk validasi awal.

Contoh:
“Ceritakan dulu, kenapa kamu marah.”

3. Sebutkan Emosi yang Anak Rasakan

Anak sering belum mampu memberi nama pada emosinya. Di sinilah peran orang tua. Sebutkan emosi yang terlihat dengan kalimat sederhana.

Contoh:
“Sepertinya kamu kecewa karena mainannya diambil.”
“Kelihatannya kamu marah, ya.”

Langkah ini adalah inti dari Cara validasi emosi anak karena membantu anak mengenali dan memahami perasaannya sendiri.

4. Akui Perasaan Anak Tanpa Membenarkan Perilaku

Setelah emosi disebutkan, lanjutkan dengan pengakuan perasaan. Gunakan kalimat empatik tanpa menyalahkan.

Contoh:
“Wajar kalau kamu kesal dalam situasi seperti itu.”

Namun ingat, mengakui perasaan bukan berarti membenarkan tindakan.

Baca juga: Gentle Parenting Strategies For Tantrums Floor Time And Emotional Validation

5. Tetapkan Batasan dengan Kalimat Tegas dan Singkat

Setelah anak mulai lebih tenang, barulah Anda menetapkan aturan. Sampaikan dengan jelas, singkat, dan konsisten.

Contoh:
“Kamu boleh marah, tapi tidak boleh memukul.”
“Kamu boleh kecewa, tapi berteriak tidak diperbolehkan.”

Inilah bagian penting dalam melakukan validasi emosi anak agar empati tidak berubah menjadi permisif.

6. Ajak Anak Mencari Cara Mengungkapkan Emosi dengan Aman

Langkah terakhir adalah mengarahkan anak pada perilaku yang lebih tepat. Ajak anak berdiskusi sesuai usianya.

Contoh:
“Kalau marah lagi, kamu bisa bilang ke Ibu atau tarik napas dulu.”

Dengan cara ini, anak belajar solusi, bukan sekadar dilarang.

Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Menerapkan Cara Validasi Emosi Anak

Kesalahan pertama yang paling sering terjadi adalah memberi ceramah panjang saat anak masih emosi. Ketika anak sedang marah, sedih, atau kecewa, kondisi emosinya belum stabil. Pada saat seperti ini, otak anak belum siap menerima nasihat, apalagi penjelasan panjang lebar. Alih-alih menenangkan, ceramah justru membuat anak merasa diserang, tidak didengar, dan semakin menutup diri. Dalam Cara validasi emosi anak, mendengarkan selalu lebih penting daripada menasihati di awal.

Kesalahan berikutnya adalah meremehkan perasaan anak dengan kalimat seperti “Ah, sepele” atau “Itu bukan masalah besar”. Bagi orang dewasa, masalah anak mungkin terlihat kecil, tetapi bagi anak, perasaan tersebut sangat nyata. Meremehkan emosi membuat anak merasa perasaannya tidak penting. Dalam jangka panjang, anak bisa belajar untuk memendam emosi atau merasa bersalah karena merasakan hal tertentu, yang justru bertentangan dengan tujuan Cara validasi emosi anak.

Kesalahan lain yang juga sering terjadi adalah membandingkan emosi anak dengan anak lain. Kalimat seperti “Temanmu saja tidak menangis” atau “Kakakmu dulu tidak seperti ini” bisa melukai harga diri anak. Perbandingan membuat anak merasa dirinya kurang baik dan tidak diterima apa adanya. Cara validasi emosi anak seharusnya berfokus pada pengalaman emosional anak itu sendiri, bukan standar atau reaksi orang lain.

Cara validasi emosi anak bukan tentang memilih antara lembut atau tegas, tetapi menemukan keseimbangan di antara keduanya. Dengan langkah-langkah yang tepat, Anda bisa membantu anak merasa dipahami tanpa kehilangan kendali sebagai orang tua. Validasi emosi yang konsisten akan membentuk anak yang lebih stabil secara emosional, mampu mengungkapkan perasaan dengan sehat, dan menghargai aturan sejak dini. Mulailah dari langkah kecil hari ini, karena perubahan besar dalam pola asuh selalu berawal dari kebiasaan sederhana yang dilakukan dengan sadar dan konsisten.