Tue. Feb 17th, 2026
Mengatasi anak suka memukul
Mengatasi anak suka memukul

Matochrecept.com – Pernah kaget melihat anak tiba-tiba memukul teman, saudara, atau bahkan Anda sendiri? Rasanya campur aduk. Kaget, malu, kesal, tapi juga bingung harus bereaksi bagaimana. Faktanya, perilaku ini cukup sering terjadi pada anak usia dini. Namun, bukan berarti boleh dibiarkan. Mengatasi anak suka memukul perlu cara yang tepat, tenang, dan konsisten supaya anak belajar mengekspresikan emosi dengan cara yang lebih sehat.

Read More : Lebih dari Sekedar Lembut, Inilah Manfaat Gentle Parenting Anak dalam Membentuk Tumbuh Kembang Emosi

Mengatasi anak suka memukul bukan soal menghentikan pukulan sesaat, tapi soal membantu anak memahami perasaannya dan belajar berperilaku lebih baik ke depannya. Nah, di bawah ini ada beberapa cara yang bisa Anda terapkan dengan pendekatan yang lebih manusiawi, tanpa marah-marah berlebihan.

1. Pahami Dulu Penyebab Anak Suka Memukul

Langkah pertama, penting bagi Anda untuk memahami akar masalahnya. Anak tidak memukul tanpa alasan. Di usia balita dan prasekolah, kemampuan bicara dan mengelola emosi mereka belum berkembang sempurna. Akibatnya, emosi yang menumpuk sering keluar lewat tindakan fisik.

Mengatasi anak suka memukul akan lebih efektif jika Anda tahu pemicunya. Bisa jadi anak merasa kesal karena mainannya direbut, frustrasi karena tidak dimengerti, atau lelah dan lapar. Ada juga anak yang meniru perilaku di sekitarnya, entah dari rumah, tontonan, atau lingkungan bermain. Dengan memahami penyebabnya, Anda tidak asal menegur, tapi bisa memberi respons yang lebih tepat.

2. Tetapkan Batasan dengan Tegas tapi Tetap Tenang

Setelah tahu penyebabnya, langkah berikutnya adalah menetapkan batasan yang jelas. Anak perlu tahu bahwa memukul bukan perilaku yang bisa diterima, siapa pun korbannya. Namun, cara menyampaikannya sangat menentukan hasilnya. Dalam mengatasi anak suka memukul, ketegasan tidak harus dibarengi bentakan atau hukuman fisik. Katakan dengan suara tenang tapi tegas, misalnya, “Memukul itu tidak boleh karena bisa menyakiti orang lain.”

Ulangi pesan ini secara konsisten setiap kali kejadian terjadi. Anak belajar dari pengulangan, bukan dari teriakan. Usahakan Anda tidak goyah. Jika hari ini dilarang, besok pun tetap sama. Konsistensi membantu anak memahami aturan dan konsekuensi. Jika aturan sering berubah, anak justru bingung dan cenderung mengulang perilaku yang sama.

Baca juga: Tension Tamer: 3 Simple Ways To Prepare Your Toddler For A New Baby Arrival!

3. Ajari Anak Mengelola Emosi dan Berkomunikasi

Bagian ini sering terlewat, padahal sangat penting. Mengatasi anak suka memukul tidak cukup hanya dengan melarang. Anak perlu dibekali alternatif. Saat anak sudah mulai tenang, ajak bicara dengan bahasa sederhana.

Tanyakan apa yang ia rasakan dan apa yang membuatnya marah. Dengarkan tanpa menghakimi. Anda bisa membantu memberi nama pada emosinya, seperti marah, sedih, atau kecewa. Dengan begitu, anak belajar bahwa perasaan itu wajar, tapi cara menyalurkannya yang perlu diperbaiki.

Ajari anak mengekspresikan emosi dengan kata-kata, bukan tangan. Contohnya, minta anak berkata “aku marah” atau “aku tidak suka” saat merasa terganggu. Dorong juga anak untuk meminta maaf jika sudah memukul, tanpa paksaan. Ini membantu menumbuhkan empati dan rasa tanggung jawab. Selain itu, berikan contoh nyata.

Anak adalah peniru ulung. Saat Anda bisa mengendalikan emosi di depan mereka, anak perlahan akan belajar melakukan hal yang sama. Inilah bagian penting dalam proses mengatasi anak suka memukul yang sering memberikan dampak jangka panjang.

Kapan Orang Tua Perlu Mencari Bantuan Profesional?

Pada sebagian anak, perilaku memukul bisa berkurang seiring waktu jika ditangani dengan cara yang tepat. Namun, ada kondisi tertentu ketika orang tua perlu mempertimbangkan bantuan profesional sebagai bagian dari upaya mengatasi anak suka memukul. Langkah ini bukan tanda kegagalan, justru menunjukkan kepedulian Anda terhadap perkembangan emosional anak.

Anda sebaiknya mulai waspada jika anak terus memukul meski sudah diberi batasan yang jelas dan konsisten. Terlebih jika perilaku tersebut semakin sering, intens, atau sampai melukai orang lain. Kondisi ini bisa menandakan bahwa anak mengalami kesulitan mengelola emosi yang tidak bisa ditangani sendiri di rumah.

Bantuan profesional juga perlu dipertimbangkan ketika anak tampak sangat mudah marah, sering tantrum berlebihan, atau kesulitan berkomunikasi sesuai usianya. Dalam konteks mengatasi anak suka memukul, psikolog anak dapat membantu menggali penyebab yang lebih dalam, seperti masalah emosional, trauma, atau hambatan perkembangan yang mungkin tidak disadari orang tua.

Menghadapi anak yang suka memukul memang menguras emosi, tapi ingat, fase ini tidak berlangsung selamanya. Dengan pendekatan yang tepat, konsisten, dan penuh empati, perilaku anak bisa berubah ke arah yang lebih positif. Mengatasi anak suka memukul bukan tentang siapa yang paling keras, tapi siapa yang paling sabar dan mau memahami.

Jika Anda merasa sudah mencoba berbagai cara namun perilaku anak tidak kunjung membaik, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional. Yang terpenting, tetap tenang, terus dampingi anak, dan percaya bahwa setiap anak bisa belajar menjadi pribadi yang lebih baik dengan dukungan yang tepat. Mengatasi anak suka memukul adalah proses, dan setiap langkah kecil yang Anda lakukan hari ini akan sangat berarti untuk masa depan anak.