Mon. Feb 9th, 2026
Menghadapi anak fase GTM
Menghadapi anak fase GTM

Matochrecept.com – Menghadapi anak fase GTM sering kali bikin orang tua geleng-geleng kepala. Sudah masak capek-capek, eh anak malah menutup mulut rapat atau kabur dari meja makan. Rasanya campur aduk antara khawatir, kesal, dan bingung harus mulai dari mana. Tenang, Anda tidak sendirian. Fase GTM atau Gerakan Tutup Mulut adalah bagian dari tumbuh kembang anak, dan kabar baiknya, kondisi ini bisa dihadapi tanpa drama berlebihan jika strateginya tepat.

Read More : Cara Mendidik Anak Agar Disiplin Tanpa Hukuman Fisik

Pahami Dulu Apa Itu GTM dan Penyebabnya

Sebelum melangkah lebih jauh, penting bagi Anda untuk memahami akar masalahnya. Menghadapi anak fase GTM akan terasa lebih ringan jika Anda tahu kenapa anak bersikap seperti itu. GTM biasanya muncul sejak usia 9 bulan dan sering memuncak di usia 2 tahun. Salah satu penyebab utamanya adalah distraksi saat makan. Televisi, gadget, atau mainan sering dianggap penolong, padahal justru bikin anak kehilangan fokus makan.

Anak jadi makan tanpa sadar, atau malah menolak sama sekali. Selain itu, anak yang terlalu aktif sering lebih tertarik bermain daripada duduk tenang di meja makan. Belum lagi fase picky eater, di mana anak mulai punya preferensi rasa dan tekstur sendiri. Ada juga faktor tumbuh gigi geraham yang bikin gusi nyeri, kelelahan akibat aktivitas berlebihan, hingga kondisi anak yang sedang sakit.

Tak kalah penting, GTM juga sering muncul karena anak ingin menunjukkan kemandiriannya. Anak merasa ingin memilih sendiri kapan dan apa yang mau dimakan. Ini bukan pembangkangan, tapi tanda perkembangan yang normal.

Strategi Menghadapi Anak Fase GTM Tanpa Tekanan

Setelah tahu penyebabnya, kini saatnya membahas strategi yang bisa Anda terapkan. Menghadapi anak fase GTM tidak harus dengan paksaan atau emosi.

1.   ciptakan suasana makan yang minim distraks

 Matikan televisi, jauhkan gadget, dan ajak anak fokus pada makanan. Buat waktu makan jadi rutinitas yang konsisten, misalnya selalu di jam yang sama.

2.   perhatikan porsi dan jadwal ngemil.

Terlalu sering ngemil bisa bikin anak kenyang sebelum makan utama. Batasi camilan, dan pilih snack sehat dengan jarak waktu yang cukup dari jam makan.

3.   libatkan anak dalam proses makan

Ajak anak memilih menu, membantu menyiapkan makanan sederhana, atau menentukan piring favoritnya. Cara ini sering efektif karena anak merasa dihargai dan punya kontrol.

4.   variasikan menu tanpa memaksa.

Jika anak menolak satu jenis makanan, Anda bisa menyajikannya kembali di lain waktu dengan bentuk atau rasa berbeda. Ingat, perlu beberapa kali percobaan sebelum anak mau menerima makanan baru.

Yang tak kalah penting, jaga reaksi Anda. Menghadapi anak fase GTM dengan marah atau memaksa justru bisa memperburuk kondisi. Anak bisa mengaitkan waktu makan dengan stres, bukan kenyamanan.

Baca juga: Hidden Benefits: Check Your Weight! How Baby’s Good Sleep Promotes Postpartum Weight Loss!

Kapan Harus Khawatir dan Apa yang Bisa Dilakukan?

Di bagian ini, penting untuk memberi gambaran agar Anda tidak overthinking. Menghadapi anak fase GTM memang menguras energi, tapi tidak selalu berbahaya. Selama berat badan anak masih dalam grafik normal, anak aktif, dan tidak menunjukkan tanda sakit serius, GTM biasanya aman. Namun, Anda perlu waspada jika GTM berlangsung lama disertai penurunan berat badan drastis, anak tampak sangat lemas, atau sering sakit.

Dalam kondisi seperti itu, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi anak. Mereka bisa membantu mengevaluasi kebutuhan nutrisi anak dan memberi solusi yang sesuai. Di rumah, Anda bisa fokus pada kualitas, bukan kuantitas. Tidak apa-apa jika anak makan sedikit, asalkan nutrisinya seimbang. Sajikan makanan padat gizi dengan porsi kecil agar anak tidak merasa tertekan.

Peran Konsistensi Orang Tua dalam Menghadapi Anak Fase GTM

Untuk melengkapi pembahasan sebelumnya, bagian ini menyoroti satu hal yang sering dianggap sepele, padahal dampaknya besar. Dalam menghadapi anak fase GTM, konsistensi orang tua memegang peran kunci. Anak sangat peka terhadap perubahan sikap dan aturan, termasuk soal makan.

Menghadapi anak fase GTM akan terasa jauh lebih mudah ketika Anda dan pasangan sepakat menerapkan aturan yang sama. Misalnya, jam makan yang konsisten, aturan soal camilan, dan respons yang seragam saat anak menolak makan. Jika hari ini anak boleh meninggalkan meja makan tanpa menyentuh makanan, lalu besok dimarahi untuk hal yang sama, anak akan bingung dan cenderung menguji batas.

Konsistensi juga membantu anak merasa aman. Anak tahu apa yang diharapkan darinya, tanpa ancaman atau paksaan. Dengan pola yang stabil, anak belajar bahwa makan adalah rutinitas alami, bukan ajang tarik-ulur emosi. Perlahan, kebiasaan ini akan membantu Anda menghadapi anak fase GTM dengan lebih tenang, minim konflik, dan tetap menjaga hubungan hangat antara orang tua dan anak.

Pada akhirnya, menghadapi anak fase GTM memang butuh kesabaran ekstra. Tidak ada solusi instan, tapi dengan pemahaman yang tepat, suasana makan bisa berubah jadi lebih tenang dan menyenangkan. Ingat, GTM adalah fase sementara, bukan kegagalan orang tua. Dengan pendekatan yang konsisten, empati, dan tanpa drama, Anda bisa melewati masa ini dengan lebih percaya diri. Menghadapi anak fase GTM bukan soal menang atau kalah, tapi soal menemani anak tumbuh dengan cara yang sehat dan penuh pengertian.